A Fantasy and Inspirations

A Fantasy and Inspirations

Sabtu, 13 Desember 2014

The Inspiration..

Antara Aku, kamu, dan Bekas Pacarmu

from : orangesky.web,id

Tuhan…apakah ini yang di namakan mencintai seseorang karena-Mu. Kenapa aku hancur ? Kenapa aku seolah-olah mati perlahan saat mendengar kejujurannya. Aku tak bisa apa-apa. Ketika ketidak nyamanan itu muncul, aku hanya terdiam dan mengangguk atau menggelengkan setiap perkataannya. Tuhan, kalau boleh aku jujur, aku resah dengan semua itu. Tapia pa daya, kejujurannya itu muncul karena dia harus menepati janjinya pada orang tersebut. Apalagi janji tersebut adalah janji yang mulia, pantaskah aku menghalanginya dan membuatnya berkhianat pada janji tersebut. Aku membatin dan terus membatin.
Sakit yang ku alami, saat aku mengetahui perempuan tersebut lebih baik dariku. Hanya isak tangis yang bisa kukerahkan untuk mengeluarkan segala beban. Batinku terus bertanya, apakah tidak ada cara lain untuk semua ini ??? cara yang seperti apa harus dia lakukan untuk menepati janjinya tanpa sakit yang aku rasakan ???
Diam-diam ?! melakukan semua itu di belakangku ?!
Itu bukan jawaban yang tepat sayang…

Kau mengetahui, aku ini adalah orang yang lebih baik menerima resiko di awal daripada nantinya ku ketahui sendiri. Aku lebih baik menahan hati mendengar penjelasanmu, walau hatiku tak sekuat baja. Nangis memang yang ku lakukan setelah itu, karena aku tidak memiliki pelampiasan lain. Marah ? untuk apa ? Ga ada gunanya. Karena rasa sayang yang ku mili ini sudah terlalu besar. Aku tidak ingin menanggung resiko lain yang membuatmu berjarak denganku. Percayalah, di balik tangisanku terlalu banyak arti. Aku lega, karena aku salut dengan kejujuranmu. Di balik sikapku yang terlihat seperti orang depresi, disitu tersimpan harapan berjuta-juta dariku untukmu. Aku butuh pembuktian dari segala ucapanmu. Buatlah agar pikiranku selalu positif terhadapmu, dan aku juga akan berusaha melakukan itu semaksimal mungkin. Di balik setiap masalahku denganmu, selalu ku lakukan intropeksi diri. Karena itu, saat kau berkata. Aku hanya merespon dengan sorotan mata dan terdiam. Yang ku pikirkan, untuk apa aku menjawab ?!
Toh, yang kau inginkan itu adalah pembuktian dariku atas semuanya. Bukan sekedar jawaban.
Tuhan, aku ingin keluar dari semua ini. Aku rindu sekali akan hari-hari indah ku bersamanya. Hari – hari yang di penuhi dengan canda, tawa dan ria, serta saling terbuka dan berbagi cerita satu sama lain.

Aku mencintainya, Tuhan…
Aku selalu berusaha untuk menjadi yang dia inginkan. Pastinya menjadi lebih baik dan tetap di jalan yang Allah ridhoi. Serta ayah dan ibu restui. Aku bukanlah manusia yang sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna. Apalagi di bandingkan perempuan tersebut. Sangat teramat jauh. Karena aku, yaa aku! Bukan perempuan itu. 

Aku yang memiliki kasih sayang dan ketulusan yang aku miliki.
Saat aku miskin akan pujian, dan yang dia lakukan hanyalah berbicara tentang kekagumannya pada perempuan tersebut. Perih memang yang ku rasakan. Tapi aku tidak mati, sisi harimauku  masih tidur dan belum bangun. Akan ada banyak yang ku lakukan ke depannya. Motivasi diri sendiri yang ku lakukan di samping proses itu, supaya semangat dan mengatakan AKU PASTI BISA !!!
Di sisi lain, aku menyadari. Bahwa dia masih peduli. Dia masih sangat mendukungku menuju pribadi yang lebih baik dan tangguh. Dia adalah dia yang dulu ku kenal hingga saat ini, yang menyayangiku dan selalu ada di sampingku. Meski aku tau, pikirannya terbagi.
Yang aku inginkan sekarang adalah bangkit dari masalah ini. Walaupun aku tidak mahir dalam bertopeng. Aku harus belajar banyak hal dalam bertopeng. Supaya yang mengetahui kepedihanku ini hanyalah diriku dan Allah yang maha mengetahui segalanya.
Jika dia tidak keberatan, mungkin dia juga yang akan ku jadikan sandaran. Meskipun masalah itu berawal darinya, aku butuh dia juga yang mengakhiri masalahnya dan membahagiakanku. Saat tangis itu keluar, yang ku inginkan adalah pelukan erat darinya. Bahkan dalam waktu berpuluh-puluh jam pun aku rela. Karena dari situ aku bisa yakin, bahwa dia ada untukku. Maafkan… aku belum bisa menjadi apa yang kau inginkan sepenuhnya.

Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki tekad besar. Di temani selembar kertas putih dan pena, aku mencurahkan segala isi hatiku. Aku sangat berharap janjimu itu cepat selesai dan fokus dengan ada yang di hadapanmu sekarang ini. Aku juga butuh bimbinganmu sepenuhnya. Aku butuh kita yang dulu tanpa hal lain yang terbagi ataupun tersakiti. Kita yang memiliki masa depan lebih baik dan menjalani hubungan yang di ridhoi Allah serta memiliki satu tujuan untuk membahagiakan orang tua dan orang sekitar kita.
Syukron ya Robb, atas pria yang di berikan kepadaku ini.
Aku menyayanginya karena-Mu.
Maafkan hamba-Mu yang berlumur dosa ini ya Allah…
Aku menunggu rencana baik-Mu.




_Dari yang merindukan ketegaran_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar