Antara Aku, kamu, dan Bekas Pacarmu
from : orangesky.web,id
Tuhan…apakah
ini yang di namakan mencintai seseorang karena-Mu. Kenapa aku hancur ? Kenapa
aku seolah-olah mati perlahan saat mendengar kejujurannya. Aku tak bisa
apa-apa. Ketika ketidak nyamanan itu muncul, aku hanya terdiam dan mengangguk
atau menggelengkan setiap perkataannya. Tuhan, kalau boleh aku jujur, aku resah
dengan semua itu. Tapia pa daya, kejujurannya itu muncul karena dia harus
menepati janjinya pada orang tersebut. Apalagi janji tersebut adalah janji yang
mulia, pantaskah aku menghalanginya dan membuatnya berkhianat pada janji
tersebut. Aku membatin dan terus membatin.
Sakit yang
ku alami, saat aku mengetahui perempuan tersebut lebih baik dariku. Hanya isak
tangis yang bisa kukerahkan untuk mengeluarkan segala beban. Batinku terus
bertanya, apakah tidak ada cara lain untuk semua ini ??? cara yang seperti apa
harus dia lakukan untuk menepati janjinya tanpa sakit yang aku rasakan ???
Diam-diam ?! melakukan semua itu di belakangku ?!
Itu bukan jawaban yang tepat sayang…
Diam-diam ?! melakukan semua itu di belakangku ?!
Itu bukan jawaban yang tepat sayang…
Kau
mengetahui, aku ini adalah orang yang lebih baik menerima resiko di awal
daripada nantinya ku ketahui sendiri. Aku lebih baik menahan hati mendengar
penjelasanmu, walau hatiku tak sekuat baja. Nangis memang yang ku lakukan
setelah itu, karena aku tidak memiliki pelampiasan lain. Marah ? untuk apa ? Ga
ada gunanya. Karena rasa sayang yang ku mili ini sudah terlalu besar. Aku tidak
ingin menanggung resiko lain yang membuatmu berjarak denganku. Percayalah, di
balik tangisanku terlalu banyak arti. Aku lega, karena aku salut dengan
kejujuranmu. Di balik sikapku yang terlihat seperti orang depresi, disitu
tersimpan harapan berjuta-juta dariku untukmu. Aku butuh pembuktian dari segala
ucapanmu. Buatlah agar pikiranku selalu positif terhadapmu, dan aku juga akan
berusaha melakukan itu semaksimal mungkin. Di balik setiap masalahku denganmu,
selalu ku lakukan intropeksi diri. Karena itu, saat kau berkata. Aku hanya
merespon dengan sorotan mata dan terdiam. Yang ku pikirkan, untuk apa aku
menjawab ?!
Toh, yang kau inginkan itu adalah pembuktian dariku atas semuanya. Bukan sekedar jawaban.
Toh, yang kau inginkan itu adalah pembuktian dariku atas semuanya. Bukan sekedar jawaban.
Tuhan, aku
ingin keluar dari semua ini. Aku rindu sekali akan hari-hari indah ku
bersamanya. Hari – hari yang di penuhi dengan canda, tawa dan ria, serta saling
terbuka dan berbagi cerita satu sama lain.
Aku mencintainya, Tuhan…
Aku selalu
berusaha untuk menjadi yang dia inginkan. Pastinya menjadi lebih baik dan tetap
di jalan yang Allah ridhoi. Serta ayah dan ibu restui. Aku bukanlah manusia
yang sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna. Apalagi di bandingkan perempuan
tersebut. Sangat teramat jauh. Karena aku, yaa aku! Bukan perempuan itu.
Aku yang memiliki kasih sayang dan ketulusan yang aku miliki.
Saat aku
miskin akan pujian, dan yang dia lakukan hanyalah berbicara tentang
kekagumannya pada perempuan tersebut. Perih memang yang ku rasakan. Tapi aku
tidak mati, sisi harimauku masih tidur
dan belum bangun. Akan ada banyak yang ku lakukan ke depannya. Motivasi diri
sendiri yang ku lakukan di samping proses itu, supaya semangat dan mengatakan
AKU PASTI BISA !!!
Di sisi
lain, aku menyadari. Bahwa dia masih peduli. Dia masih sangat mendukungku
menuju pribadi yang lebih baik dan tangguh. Dia adalah dia yang dulu ku kenal
hingga saat ini, yang menyayangiku dan selalu ada di sampingku. Meski aku tau,
pikirannya terbagi.
Yang aku
inginkan sekarang adalah bangkit dari masalah ini. Walaupun aku tidak mahir
dalam bertopeng. Aku harus belajar banyak hal dalam bertopeng. Supaya yang
mengetahui kepedihanku ini hanyalah diriku dan Allah yang maha mengetahui
segalanya.
Jika dia tidak keberatan, mungkin dia juga yang akan ku jadikan sandaran. Meskipun masalah itu berawal darinya, aku butuh dia juga yang mengakhiri masalahnya dan membahagiakanku. Saat tangis itu keluar, yang ku inginkan adalah pelukan erat darinya. Bahkan dalam waktu berpuluh-puluh jam pun aku rela. Karena dari situ aku bisa yakin, bahwa dia ada untukku. Maafkan… aku belum bisa menjadi apa yang kau inginkan sepenuhnya.
Jika dia tidak keberatan, mungkin dia juga yang akan ku jadikan sandaran. Meskipun masalah itu berawal darinya, aku butuh dia juga yang mengakhiri masalahnya dan membahagiakanku. Saat tangis itu keluar, yang ku inginkan adalah pelukan erat darinya. Bahkan dalam waktu berpuluh-puluh jam pun aku rela. Karena dari situ aku bisa yakin, bahwa dia ada untukku. Maafkan… aku belum bisa menjadi apa yang kau inginkan sepenuhnya.
Aku hanyalah
manusia biasa yang memiliki tekad besar. Di temani selembar kertas putih dan pena,
aku mencurahkan segala isi hatiku. Aku sangat berharap janjimu itu cepat
selesai dan fokus dengan ada yang di hadapanmu sekarang ini. Aku juga butuh
bimbinganmu sepenuhnya. Aku butuh kita yang dulu tanpa hal lain yang terbagi
ataupun tersakiti. Kita yang memiliki masa depan lebih baik dan menjalani
hubungan yang di ridhoi Allah serta memiliki satu tujuan untuk membahagiakan
orang tua dan orang sekitar kita.
Syukron ya
Robb, atas pria yang di berikan kepadaku ini.
Aku menyayanginya karena-Mu.
Maafkan hamba-Mu yang berlumur dosa ini ya Allah…
Aku menunggu rencana baik-Mu.
Aku menyayanginya karena-Mu.
Maafkan hamba-Mu yang berlumur dosa ini ya Allah…
Aku menunggu rencana baik-Mu.
_Dari yang merindukan ketegaran_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar