Senjaku Bersamamu
from : wakpaper.com
Senja tak akan terlihat sama setiap harinya. Layaknya hari
ini, kali ini senja tak secerah biasanya. Warna jingga yang cerah tertutup oleh
mendung, sehingga senja terlihat murung. Kata orang-orang, warna senja bisa
melambangkan perasaan kita saat itu. Persis sekali dengan yang aku rasakan,
mendung. Wajahku murung. Kali ini aku tidak ingin melupakan satu hal penting
dalam diam sambutan angin disini. Ketika ada perkataan yang baru saja aku
dengar darinya bahwa dia tidak bisa terus hadir di sampingku, menjagaku jarak
dekat, menghangatkanku dengan pelukannya. Dia akan menghampiri keluarganya dan
menetap disana. Karena tugasnya untuk menuntut ilmu di kota kembang ini telah
selesai. Kepulauan dengan keindahan pantainya, Bangka Belitung. Disitulah
tempat dia dan keluarganya menetap. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana
rasanya berhubungan jarak jauh berbeda pulau. Dan aku juga tidak ingin menyerah
begitu saja. Senja kali ini begitu berbeda, ketika senja merupakan akhir dari
kekhawatiran. Kali ini senja menjadi awal kekhawatiran, takut kehilangan, dan
lain-lain. Perasaanku bercampur aduk. Hanya beberapa yang sama, senja tetap
memberi kenyamanan dan ketenangan. Dia yang membuatku tenang dan nyaman berada
di sampingnya. Meski berita tidak menyenangkan baru saja di sampaikannya.
Dengan sepenuh hati, dia memberiku kepercayaan dan keyakinan untuk menjalani
semuanya. “Ini, bukanlah akhir dari segalanya sayang.” Kata-kata yang ia
keluarkan dari mulutnya, di iringi hembusan angin sejuk di puncak kota Bandung
Utara. Jujur, aku tidak bisa membendung lagi air mata saat itu. Semuanya begitu
berat. Tapi tidak mungkin aku menitikkan tetesan-tetesan bening disaat seperti
ini. Kenangan-kenangan indah bersamanya aku lipat pelan-pelan dalam relung
hatiku bersama senja. Aku tidak mungkin melupakan masa-masa indah ini. Toh,
jika tuhan mengizinkan. Aku dan dia bisa bertemu kembali. Bahkan di pertemukan
dalam momen yang sangat menyenangkan. Senja ini diam-diam sudah membuatku
semakin jatuh cinta kepadanya. Kepribadiannya sangatlah membuat hati ini
tenang. Dalam diam, aku memandanginya. Sejenak lalu aku palingkan wajahku
menatap senja yang akan hilang di telan gelapnya malam. Berharap senja ini akan
membawa kesedihanku. Sehingga aku bisa menerima segalanya dengan kelapangan
hati. Sepertinya aku akan menyukai suasana senja, penikmat senja di bumi ini.
Aku pandang kembali wajahnya, kali ini tepat di manik matanya. “Terima kasih
telah memberiku kenyamanan dan kebahagiaan. Serta mengerti makna cinta yang
sesungguhnya.” Hanya itu yang sanggup ku katakan. Ia tersenyum, “Kau senja dan
aku jingga, tanpamu aku hanyalah warna tanpa rasa.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar