A Fantasy and Inspirations

A Fantasy and Inspirations

Sabtu, 13 Desember 2014

Saat Senja Berbicara..

Senjaku Bersamamu

from : wakpaper.com



Senja tak akan terlihat sama setiap harinya. Layaknya hari ini, kali ini senja tak secerah biasanya. Warna jingga yang cerah tertutup oleh mendung, sehingga senja terlihat murung. Kata orang-orang, warna senja bisa melambangkan perasaan kita saat itu. Persis sekali dengan yang aku rasakan, mendung. Wajahku murung. Kali ini aku tidak ingin melupakan satu hal penting dalam diam sambutan angin disini. Ketika ada perkataan yang baru saja aku dengar darinya bahwa dia tidak bisa terus hadir di sampingku, menjagaku jarak dekat, menghangatkanku dengan pelukannya. Dia akan menghampiri keluarganya dan menetap disana. Karena tugasnya untuk menuntut ilmu di kota kembang ini telah selesai. Kepulauan dengan keindahan pantainya, Bangka Belitung. Disitulah tempat dia dan keluarganya menetap. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berhubungan jarak jauh berbeda pulau. Dan aku juga tidak ingin menyerah begitu saja. Senja kali ini begitu berbeda, ketika senja merupakan akhir dari kekhawatiran. Kali ini senja menjadi awal kekhawatiran, takut kehilangan, dan lain-lain. Perasaanku bercampur aduk. Hanya beberapa yang sama, senja tetap memberi kenyamanan dan ketenangan. Dia yang membuatku tenang dan nyaman berada di sampingnya. Meski berita tidak menyenangkan baru saja di sampaikannya. Dengan sepenuh hati, dia memberiku kepercayaan dan keyakinan untuk menjalani semuanya. “Ini, bukanlah akhir dari segalanya sayang.” Kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya, di iringi hembusan angin sejuk di puncak kota Bandung Utara. Jujur, aku tidak bisa membendung lagi air mata saat itu. Semuanya begitu berat. Tapi tidak mungkin aku menitikkan tetesan-tetesan bening disaat seperti ini. Kenangan-kenangan indah bersamanya aku lipat pelan-pelan dalam relung hatiku bersama senja. Aku tidak mungkin melupakan masa-masa indah ini. Toh, jika tuhan mengizinkan. Aku dan dia bisa bertemu kembali. Bahkan di pertemukan dalam momen yang sangat menyenangkan. Senja ini diam-diam sudah membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. Kepribadiannya sangatlah membuat hati ini tenang. Dalam diam, aku memandanginya. Sejenak lalu aku palingkan wajahku menatap senja yang akan hilang di telan gelapnya malam. Berharap senja ini akan membawa kesedihanku. Sehingga aku bisa menerima segalanya dengan kelapangan hati. Sepertinya aku akan menyukai suasana senja, penikmat senja di bumi ini. Aku pandang kembali wajahnya, kali ini tepat di manik matanya. “Terima kasih telah memberiku kenyamanan dan kebahagiaan. Serta mengerti makna cinta yang sesungguhnya.” Hanya itu yang sanggup ku katakan. Ia tersenyum, “Kau senja dan aku jingga, tanpamu aku hanyalah warna tanpa rasa.”   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar